Ketika bencana alam seperti gempa bumi melanda, fokus utama seringkali tertuju pada penyelamatan korban, penyediaan makanan, dan tempat tinggal sementara. Namun, di tengah hiruk pikuk upaya tanggap darurat, ada luka yang tak kasat mata namun sama pentingnya untuk diobati: trauma psikologis. Palang Merah Indonesia (PMI) memiliki tim khusus yang berdedikasi pada tugas mulia ini—yaitu para Relawan Psikososial. Peran Relawan Psikososial PMI adalah memberikan dukungan awal untuk menstabilkan kondisi emosional korban, mencegah trauma akut berkembang menjadi masalah kesehatan mental jangka panjang. Relawan Psikososial ini bertugas memastikan bahwa pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental dan emosional. Berdasarkan data dari Divisi Pelayanan Kesehatan PMI Pusat, Tim Dukungan Psikososial (Dukos) harus dikerahkan ke lokasi bencana dalam waktu maksimal 72 jam setelah kejadian, terutama untuk fokus pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
1. Mengidentifikasi Luka Tak Terlihat
Trauma pasca-bencana dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk: kecemasan berlebihan, mimpi buruk, apatis, hingga penolakan untuk berinteraksi.
- Fokus pada Anak-anak: Anak-anak adalah korban yang paling rentan. Tim Dukos PMI sering mendirikan Child Friendly Spaces (Ruang Ramah Anak) di lokasi pengungsian. Di sana, relawan menggunakan permainan, menggambar, dan bercerita sebagai medium untuk membantu anak-anak memproses pengalaman traumatis mereka.
- Pendekatan Peer Support: Bagi orang dewasa, relawan menggunakan pendekatan peer support (dukungan sebaya), yaitu mendengarkan tanpa menghakimi dan mendorong para korban untuk berbagi pengalaman dalam kelompok kecil.
2. Kegiatan dan Modus Operandi Relawan
Kegiatan tim Dukos PMI jauh dari kesan formal terapi klinis. Pendekatan mereka bersifat humanis dan berbasis komunitas.
- Dapur Cerita: Di tempat pengungsian yang didirikan pasca-gempa di Kabupaten Cianjur pada tanggal 21 November 2022, tim Dukos PMI membuka sesi “Dapur Cerita”. Sesi ini dilakukan setiap sore hari untuk mendorong warga berbagi kisah positif dan pengalaman saling membantu, mengalihkan fokus dari kerugian materi ke kekuatan komunitas.
- Integrasi dengan Logistik: Tim Dukos bekerja berdampingan dengan tim logistik dan medis. Saat distribusi bantuan makanan atau obat-obatan, relawan Dukos memanfaatkan interaksi singkat tersebut untuk mengamati tanda-tanda distress emosional dan menawarkan dukungan langsung.
3. Jaringan dan Pelatihan Relawan
Menjadi Relawan Psikososial membutuhkan pelatihan spesifik, berbeda dengan relawan medis atau evakuasi.
- Pelatihan Khusus: Relawan dilatih untuk memberikan Psychological First Aid (PFA), yaitu pertolongan pertama psikologis yang tidak memerlukan latar belakang psikolog formal, melainkan fokus pada stabilisasi, keamanan, dan menghubungkan korban dengan dukungan sosial yang mereka butuhkan.
- Sistem Rotasi: Untuk menghindari kelelahan mental pada relawan itu sendiri, PMI menerapkan sistem rotasi yang ketat. Setiap relawan Dukos tidak diizinkan bertugas di garis depan lebih dari 14 hari berturut-turut, demi menjaga kesehatan mental dan profesionalitas mereka.
