Ketika bencana alam melanda, infrastruktur vital seringkali menjadi korban pertama, termasuk fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan klinik. Dalam situasi genting tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) memainkan peran krusial dengan segera mendirikan Rumah Sakit Lapangan (Field Hospital). Rumah Sakit Lapangan PMI bukan sekadar tenda pertolongan pertama, melainkan fasilitas medis yang terstruktur, mampu memberikan layanan darurat, bedah ringan, hingga perawatan intensif di tengah keterbatasan. Kehadiran Rumah Sakit Lapangan ini menjadi simbol harapan, mengubah puing-puing dan reruntuhan menjadi pusat kehidupan dan pemulihan bagi warga terdampak. Mobilitas dan kecepatan pendiriannya memastikan prinsip pertolongan Golden Hour dapat terpenuhi.
Aktivitas pendirian Rumah Sakit Lapangan PMI sangat terencana dan cepat. Tim Reaksi Cepat (TRC) PMI yang terdiri dari dokter, perawat, apoteker, dan spesialis water and sanitation (WASH) dimobilisasi dalam waktu singkat. Sebagai contoh, saat terjadi gempa bumi berkekuatan M 6.5 di wilayah tersebut pada 12 April 2025, tim PMI Pusat bersama relawan daerah berhasil mendirikan fasilitas ini lengkap dengan area triage, unit gawat darurat (UGD), dan ruang rawat inap darurat dalam waktu kurang dari 18 jam sejak tim pertama tiba. Data logistik mencatat bahwa pendirian ini membutuhkan 15 unit tenda modular, 50 ranjang lipat, dan 2 unit generator listrik berkapasitas 5.000 Watt untuk mendukung peralatan medis.
Layanan yang disediakan oleh Rumah Sakit Darurat PMI sangat komprehensif. Selain penanganan kasus trauma akibat reruntuhan, tim medis juga fokus pada masalah kesehatan sekunder pascabencana, seperti infeksi saluran pernapasan, diare, dan dukungan psikososial. Pada minggu pertama operasi di lokasi bencana tersebut, tercatat 850 pasien telah ditangani, termasuk 15 kasus bedah ringan yang berhasil diselesaikan oleh tim dokter bedah relawan. Selain itu, tim juga menyediakan layanan persalinan darurat. Pada hari Jumat, 18 April 2025, pukul 03.15 WIB, seorang ibu berhasil melahirkan bayi perempuan sehat dengan bantuan bidan relawan PMI di dalam tenda rawat bersalin.
Untuk memastikan keamanan fasilitas medis dan kelancaran distribusi obat-obatan, PMI bekerja sama erat dengan aparat keamanan. Selama masa operasi tanggap darurat, Kepolisian Resor (Polres) setempat menugaskan 10 personil keamanan khusus untuk menjaga perimeter Rumah Sakit Lapangan selama 24 jam. Hal ini penting untuk mencegah penjarahan logistik dan memastikan lingkungan yang steril bagi pasien. Keberadaan Rumah Sakit Lapangan bukan hanya sebagai fasilitas pengobatan, tetapi juga sebagai pusat koordinasi kesehatan yang mendukung upaya pemulihan total, memastikan bahwa korban bencana menerima perawatan yang layak tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang sosial mereka.
