Palang Merah Indonesia (PMI) terus berinovasi dalam strategi penanggulangan bencana, dengan fokus utama pada inisiatif Membangun Benteng Mandiri. Konsep ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah pendekatan proaktif yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat sebelum bencana menerjang. PMI memahami bahwa respons cepat dan efektif dimulai dari tingkat komunitas, di mana individu dan kelompok memiliki kapasitas untuk melindungi diri dan sesama. Inilah esensi dari upaya Membangun Benteng Mandiri, memastikan setiap wilayah memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi berbagai potensi krisis.
Strategi ini diwujudkan melalui serangkaian program edukasi dan pelatihan yang intensif. PMI secara rutin mengadakan simulasi bencana, lokakarya pertolongan pertama, dan pelatihan manajemen pengungsian di berbagai daerah rawan. Misalnya, pada tanggal 20 Juni 2025 lalu, PMI Cabang Kota Surabaya sukses menyelenggarakan pelatihan simulasi gempa bumi di area permukiman padat penduduk, melibatkan lebih dari 150 warga dan 20 relawan inti. Pelatihan ini juga dihadiri oleh perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan didampingi langsung oleh dua petugas dari Kepolisian Sektor setempat, yang hadir sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB untuk memastikan kelancaran dan keamanan kegiatan. Tujuannya adalah untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan praktis, sehingga mereka mampu bertindak cepat dan tepat saat bencana sungguhan terjadi.
Selain itu, PMI juga mendorong pembentukan dan penguatan Komunitas Tanggap Bencana (KTB) di tingkat desa dan kelurahan. KTB ini bertindak sebagai unit garda terdepan yang terlatih, mampu melakukan penilaian cepat, evakuasi mandiri, dan distribusi bantuan awal sebelum bantuan dari luar tiba. Program ini juga mencakup pembentukan lumbung logistik mandiri di tingkat lokal, memastikan ketersediaan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan darurat. Konsep Membangun Benteng Mandiri ini tidak hanya berorientasi pada respons, tetapi juga pada mitigasi risiko dan pemulihan dini, mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal dalam fase awal bencana.
Penguatan kapasitas relawan juga menjadi pilar penting. Setiap relawan PMI dibekali dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dan pelatihan berjenjang, mulai dari tingkat dasar hingga spesialisasi seperti evakuasi medis dan dukungan psikososial. Pada hari Selasa setiap minggunya, seluruh koordinator relawan dari berbagai unit di PMI Provinsi Jawa Barat mengadakan rapat koordinasi daring untuk mengevaluasi program dan merencanakan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya Membangun Benteng Mandiri di seluruh wilayah. Dengan demikian, PMI tidak hanya menyiapkan masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa para relawannya adalah sumber daya yang profesional dan siap pakai di garis depan kemanusiaan.
