Indonesia adalah negara yang rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga letusan gunung berapi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana menjadi sangat krusial, dan Palang Merah Indonesia (PMI) memainkan peran sentral dalam membangun komunitas yang tangguh sejak dini. PMI tidak hanya hadir saat bencana melanda, tetapi secara proaktif melakukan edukasi dan pelatihan untuk meminimalisir risiko serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat. Fokus pada kesiapsiagaan bencana adalah kunci untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh bencana.
Salah satu program kesiapsiagaan bencana yang gencar dilakukan PMI adalah sosialisasi dan simulasi evakuasi di sekolah-sekolah dan lingkungan masyarakat. Pada hari Rabu, 18 Juni 2025, PMI Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengadakan simulasi gempa bumi di SMP Bhakti Bangsa. Sebanyak 500 siswa dan 30 guru terlibat aktif dalam latihan ini, diajarkan bagaimana melakukan “bertahan, berlindung, dan menyelamatkan diri” (drop, cover, hold on) serta jalur evakuasi yang aman. Koordinator Lapangan PMI Sleman, Bapak Budi Hartono, menekankan pentingnya latihan rutin agar masyarakat terbiasa dan tahu apa yang harus dilakukan saat bencana nyata terjadi.
Selain simulasi, PMI juga aktif dalam membentuk dan melatih relawan berbasis komunitas. Mereka adalah garda terdepan yang tinggal di wilayah rawan bencana dan memiliki pengetahuan dasar pertolongan pertama serta manajemen posko darurat. Pada 25 Mei 2025, PMI Kota Palu menyelesaikan pelatihan intensif bagi 40 relawan baru di Kelurahan Petobo, daerah yang pernah terdampak parah gempa dan likuefaksi. Pelatihan ini meliputi cara mendirikan tenda pengungsian, pengelolaan dapur umum, hingga teknik pertolongan pertama dasar. Bahkan, seorang perwira dari Kepolisian Resor Palu, Iptu Rahmat Subagio, turut memberikan materi tentang koordinasi keamanan di lokasi bencana selama pelatihan tersebut.
Dengan berbagai upaya tersebut, PMI menunjukkan komitmennya dalam kesiapsiagaan bencana. Ini adalah investasi jangka panjang yang bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga membangun kemandirian dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman bencana di masa depan, mengurangi kerentanan, dan mempercepat proses pemulihan pasca kejadian.
